Australia bersama AS dulu menyetujui intervensi Indonesia ke Timtim--TNI hrs berani menghajar pasukan Australia yg terang2 melanggar RIPosted byUser: justiceFrom: spider-wk051.proxy.aol.com On: September 28, 1999 at 18:05:57 sikap Australia yang sok heroik ini cukup menggelikan. Bukankah Australia bersama AS, yang dulu menyetujui intervensi Indonesia ke Timtim pada 1975? Barat saat itu masih trauma dengan kejatuhan Saigon ke tangan komunis. Proklamasi kemerdekaan sepihak Fretilin yang Marxis, membuat kecut Barat. Celakanya, Soeharto yang memang antikomunis (tapi juga antidemokrasi) itu menyetujui rencana masuk ke Timtim yang didukung oleh AS dan Australia itu. Untuk lebih jelasnya, berikut kronologi penguasaan Timtim oleh RI dan pasang surut hubungan Indonesia-Australia: 14 Agustus 1975: Digelar Operasi Komodo. Pasukan blue jean dari Kopassandha (disebut demikian karena pakaiannya bebas, tak berseragam), masuk lewat perbatasan. September 1975: PM Australia Gough Whitlam bertemu Soeharto di Wonosobo. Soeharto menanyakan sikap Australia soal Timtim. "Kalau merdeka, Timtim tidak akan jadi negara yang sanggup bertahan lama, dan akan menjadi ancaman potensial,'' kata Whitlam, yang malah menawarkan bantuan untuk membuat pendekatan bersama terhadap Portugal untuk mendorong integrasi. 16 Oktober 1975: Pasukan Kopassandha dan KKO memasuki Balibo. Maka, 5 wartawan (2 Australia, 2 Inggris dan 1 Selandia Baru) terbunuh dalam serangan ABRI. Menlu Australia, Senator Willesse, menyatakan tak terlalu tahu peristiwanya. Ini jelas bohong. Sebab, beritanya sudah dipantau oleh sistem pengawasan elektronik yang dioperasikan oleh Divisi Sinyal Departemen Pertahanan Australia di Teluk Shoal, dan diteruskan ke Melbourne paling lama 12 jam kemudian. 7 Desember 1975: Presiden AS Gerald Ford mengakhiri kunjungannya ke Indonesia setelah berbicara dengan Soeharto. 8 Desember 1975: Digelar Operasi Seroja, dan intervensi ke Timtim menjadi terang-terangan. Maka, intervensi Indonesia ke Timtim sebenarnya berlangsung di bawah kerdipan mata AS dan Australia. 4 Desember 1980: Dokumen rahasia tentang kebijakan luar negeri Australia diterbitkan koran The Age, Melbourne. Isinya, pemerintah Australia tahu banyak dan diam-diam menyetujui kejadian-kejadian sebelum masuknya Indonesia ke Timtim. 18 Agustus 1985: PM Australia Bob Hawke mengakui kedaulatan Indonesia, dan Australia menandatangani perjanjian eksplorasi minyak di Celah Timor. Demikianlah, Australia adalah penyokong utama masuknya Indonesia ke Timtim. Januari 1999: Australia banting stir. PM John Howard mengirim surat ke Presiden Habibie, minta agar rakyat Timtim diberi hak menentukan nasib sendiri. 27 Januari 1999: Habibie membuat kejutan, menawarkan opsi kemerdekaan bila tawaran otonomi yang diperluas ditolak. 12 Februari 1999: Australia menyatakan keberatan dengan opsi kemerdekaan itu. "Rakyat Timor Timur sebaiknya memilih bentuk otonomi dalam Indonesia daripada berdiri sendiri. Karena kalau tidak, Timor Timur hanya menjadi beban bagi negara-negara donor, khususnya Australia,'' kata Howard di Canberra. 8 September 1999: Australia berubah sikap lagi. Kepada pers di Canberra, Howard mengatakan, hubungan yang hangat dengan Indonesia kini bukan lagi prioritas absolut bagi Australia. Harus diakui, rezim Soeharto dan ABRI telah berdosa membuat rakyat Timtim sengsara karena pemaksaan "integrasi''. Tapi, Australia juga tak luput dari dosa karena ikut mendukung. Kalau sekarang Australia sok heroik dan menantang TNI, sebenarnya bagus-bagus saja. Daripada banyak dihujat karena terus menyerang rakyat Timtim, lebih baik TNI ganti siap-siap menghajar pasukan Australia yang terang-terangan melanggar kedaulatan RI dan terbukti hanya menyulut dendam di kalangan warga Timtim. Jangan hanya beraninya menembaki mahasiswa dan rakyatnya sendiri.
|